Beranda | Artikel
Mendidik Anak Berbakti dan Beretika kepada Orang Tua
16 jam lalu

Mendidik Anak Berbakti dan Beretika kepada Orang Tua ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Pendidikan Anak yang disampaikan oleh Ustadz Dr. Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 17 Rabiul Akhir 1448 H / 28 September 2026 M.

Kajian Tentang Mendidik Anak Berbakti dan Beretika kepada Orang Tua

Namum perhatikan niatnya. Jika niatnya adalah supaya kebaikan kita dibalas oleh anak, maka itu termasuk pamrih. Misalnya, ketika lahiran bapak dan ibu memberikan uang sekian pada anak, membayar biaya sekolah, dari TK hingga S1. Itu namanya pamrih. Namun, yang benar adalah niatkan untuk mendidik, yakni mengajarkan bahwa birrul walidain adalah ibadah. Niat seperti inilah yang benar.

Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan cirinya ahli surga dalam Al-Qur’an:

إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّهِ لَا نُرِيدُ مِنْكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

“Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih.” (QS. Al-Insan[76]: 9)

Orang tua yang memberi makan kepada anak dan menunggu anak membalas dengan terima kasih, itu termasuk pamrih.

Misalnya, orang tua suka meminta terima kasih ketika anak sudah diambil air, makan, atau dibantu membersihkan kasur. Ketika kita memaksa anak untuk mengucapkan terima kasih, itu pamrih atau mendidik, tergantung pada niatnya. Jika niat kita adalah mengajarkan adab kepada anak, maka tidak apa-apa. Bahkan, itu termasuk bagian dari tugas kita sebagai orang tua.

Niatnya bukanlah pamrih, tetapi niatnya adalah dalam rangka mendidik. Untuk menumbuhkan kesadaran anak supaya terbiasa berbakti kepada orang tuanya, ada tiga langkah yang perlu kita lakukan di hadapan mereka.

Mendidik Anak Berbakti dan Beretika kepada Orang Tua

1. Menanamkan kesadaran bahwa berbakti adalah ibadah

Langkah pertama untuk mendidik anak agar berbakti kepada orang tuanya adalah menanamkan kesadaran bahwa berbakti adalah ibadah. Anak perlu diberi pemahaman bahwa birrul walidain termasuk dalam kategori ibadah. Kesadaran ini harus disampaikan dengan jelas agar anak memahami bahwa perintah berbakti kepada orang tua bukanlah berasal dari manusia, melainkan dari Allah.

Dalil bahwa birrul walidain adalah ibadah adalah firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Isra ayat 23.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا…

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…” (QS. Al-Isra [17]: 23)

Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kita untuk tidak beribadah kecuali kepada-Nya saja (tauhid), dan kemudian memerintahkan kita untuk berbuat baik kepada kedua orang tua (birrul walidain). Yang perlu diketahui anak adalah bahwa perintah berbakti kepada orang tua bukan berasal dari diri bapak atau ibu, melainkan merupakan perintah dari Allah. Bapak dan ibu hanya menyampaikan perintah Allah ini kepada anak.

Karena birrul walidain termasuk ibadah, maka ibadah pasti memberi keuntungan, bukan merugikan. Tidak ada keadaan di mana ibadah justru merugikan.

Kepada anak perlu dielaskan bahwa keuntungan berbakti kepada orang tua terjadi di dunia dan di akhirat. Di dunia, rezeki akan lancar dan umur akan panjang. Di akhirat, pahala yang disimpan oleh Allah jauh lebih besar.

Keuntungan berbakti kepada orang tua di dunia antara lain: rezeki menjadi lancar dan umur dipanjang. Sebaliknya, durhaka kepada orang tua justru menyebabkan rezeki seret dan umur pendek.

Dalil tentang pahala memanjangkan umur dan meluaskan rezeki bagi yang berbakti kepada orang tuanya adalah sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dan isnadnya dinilai shahih oleh al-Haitami.

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُـمَدَّ لَهُ فِي عُمُرِهِ وَيُزَادَ فِي رِزْقِهِ فَلْيَبَرَّ وَالِدَيْهِ وَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barang siapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, maka hendaklah ia berbakti kepada kedua orang tuanya dan menyambung tali silaturahim.” (HR. Ahmad, dinilai shahih oleh al-Haitami)

Selama ini, orang cenderung mengira bahwa hanya silaturahim yang dapat memanjangkan umur dan meluaskan rezeki. Padahal, birrul walidain juga termasuk dalam kategori tersebut. Bahkan, bisa dikatakan bahwa berbakti kepada orang tua adalah bentuk silaturahim yang paling wajib.

Karena silaturahim ada yang wajib dan ada yang sunnah, maka hukum silaturahim kepada orang tua justru lebih kuat dibanding silaturahim kepada kerabat lain. Jika dilihat dari segi hukumnya, silaturahim kepada orang tua bukan lagi sekadar sunnah, melainkan wajib.

Jelaskan kepada anak bahwa berbakti kepada orang tuanya memberi keuntungan. Rezeki akan dilancarkan oleh Allah, dan umur akan dipanjangkan. Di dunia, namanya pun akan harum, dikenal baik di mata orang lain. Banyak cerita inspiratif tentang anak yang berbakti kepada orang tuanya.

Di sisi lain, ada pula anak yang durhaka kepada orang tuanya. Akibatnya, nama tidak akan harum dan kehidupannya akan serba sulit.

Keuntungan dunia lainnya, jika kita berbakti kepada orang tua, maka anak kita di masa depan pun akan berbakti. Itu adalah balasan di dunia.

Kemudian pindah ke keuntungan di akhirat. Keuntungannya adalah kita akan dimudahkan masuk surga. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan dinilai shahih oleh Imam at-Tirmidzi, Imam Ibnu Hibban, dan Imam Adz-Dhahabi.

الوالِدُ أوسطُ أبوابِ الجنَّةِ

“Orang tua adalah pintu tengah surga.” (HR. Ahmad, dinilai shahih oleh at-Tirmidzi, Ibnu Hibban, dan Adz-Dhahabi)

Siapa yang berbakti, maka ia akan mudah masuk surga. Anak-anak sering mencari pintu surga jauh-jauh, padahal justru pintunya ada di rumah mereka. Subhanallah, aneh bin ajaib.

Ada sebagian ulama yang terkenal enggan meninggalkan kota asalnya untuk mengisi pengajian di luar kota, apalagi di luar negeri. Hal ini karena kecintaan dan kewajiban berbakti kepada orang tuanya. Jika orang tuanya sedang butuh pertolongan atau meninggal, maka menjadi dosa yang besar bagi seorang anak yang meninggalkannya hanya untuk sesuatu duniawi.

Keuntungan berbakti kepada orang tua di akhirat adalah kita mendapat ridha Allah. Hadis ini tidak asing bagi kita. Nabi sallallahu alaihi wa sallam bersabda:

رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ، وَسَخَطُ اللَّهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدَيْنِ

“Keridhaan Allah tergantung pada keridaan kedua orang tua, dan kemurkaan Allah tergantung pada kemurkaan kedua orang tua.” (HR. at-Tirmidzi, dinilai hasan)

Oleh karena itu, kita harus menjelaskan kepada anak-anak bahwa berbakti adalah ibadah. Jangan sampai membuat orang tua marah. Karena kalau orang tua marah, nanti Allah ikut marah.

2. Memberikan Teladan dalam Berbakti

Langkah kedua adalah memberikan teladan nyata, bukan sekadar teori semata. Orang tua adalah contoh utama yang harus ditiru oleh anak-anaknya.

Jika kita masih memiliki orang tua, maka kita harus meneladani cara berbakti kepada mereka. Biasanya, orang tua yang sudah tua justru semakin berharga dan berat pahalanya.

Ketika orang tua semakin lanjut usia, fisiknya semakin lemah dan kekuatannya semakin berkurang. Mereka mungkin sudah tidak mampu lagi untuk bekerja dan mencari nafkah. Kita dituntut untuk berkorban secara fisik, tenaga, dan materi. Kita harus siap untuk membantu mereka bergerak, seperti gendong atau mendorong kursi roda. Kita juga harus menyediakan makan, minum, dan obat bila diperlukan.

Pengorbanan yang paling berat justru adalah perasaan. Orang tua yang sudah lanjut usia cenderung lebih sensitif dan mudah tersinggung. Mereka mudah marah dan emosional. Oleh karena itu, kita harus berhati-hati dalam berinteraksi dengan mereka. Ucapan dan raut muka kita tidak lolos dari penglihatan anak-anak kita. Segala tindakan kita akan dicontoh oleh mereka.

Ada seorang ustadz yang rajin berenang dan berjalan kaki. Teman-temannya bertanya, “Ustadz, kenapa kamu suka berenang dan berjalan kaki? Apa tujuannya?” Ustadz menjawab, “Ibu saya mengalami stroke. Jika saya tidak kuat, siapa yang akan menggendong ibu saya? Inilah sebabnya saya menjaga kesehatan tubuhku agar bisa tetap kuat.”

Olahraga yang dilakukan tanpa tujuan, maka tidak akan berguna. Otot yang kuat tidak akan berguna jika kita tidak pernah menggunakan untuk membantu orang lain, seperti menggendong ibu yang membutuhkan. Ingat, bahwa tujuan kita olahraga adalah agar tetap sehat dan kuat untuk beribadah. Salah satu ibadah yang kita laksanakan adalah berbakti kepada orang tua.

3. Membiasakan etika dan adab dalam kehidupan sehari-hari

Yang ketiga adalah membiasakan etika dan adab dalam kehidupan sehari-hari. Adab dan akhlak perlu dilatih agar menjadi karakter. Anak-anak harus dibiasakan untuk mempraktikkan etika harian. Jika kita tidak melatihnya sejak kecil, ketika mereka tumbuh nanti, mereka tidak akan tahu cara yang benar. Sebagai contoh, pernahkah kita melihat orang tua yang masih minum menggunakan tangan kiri? Sebenarnya bisa jadi mereka tahu hukumnya, tapi melakukan itu secara tidak sadar. Hal ini karena sudah menjadi kebiasaan. Mungkin sejak kecil, kesalahan itu dibiarkan dan tidak ditegur oleh orang tuanya.

Dibiarkan melakukan kesalahan dengan alasan “masih kecil” adalah tindakan yang tidak benar. Jika kita membiarkan kesalahan sejak kecil, nanti akan sulit untuk dihilangkan ketika sudah tua. Oleh karena itu, kita harus segera memperbaiki perilaku anak-anak agar mereka belajar menghormati orang tua, memasuki rumah sambil memberi salam, meminta izin sebelum berangkat sekolah, dan sopan dalam berbicara di hadapan orang tua.

Semua hal ini harus dibiasakan agar menjadi kebiasaan. Maka kata para ulama, “Mendidik di waktu kecil seperti mengukir di atas batu.” Yang namanya memahat dan mengukir itu kan butuh pahat dan palu. Pertanyaannya, berapa pukulan supaya menjadi ukiran? Jawabnya harus berkali-kali, puluhan bahkan ratusan kali. Tapi kalau sudah jadi ukirannya, dia akan tahan lama.

Kalau kita mau capek membiasakan anak melakukan adab harian, seperti salam, cium tangan, berbicara yang halus, menghormati orang tua, itu setiap hari kita ingatkan anak seperti itu, insyaAllah itu akan menjadi ukiran indah dalam pribadi anak kita. Mudah-mudahan sampai mereka menghadap kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kalau itu menjadi ukiran yang dia pertahankan sampai meninggal dunia, kita akan dapat pahalanya. Berarti lelahnya kita untuk bolak-balik mengingatkan adab kepada anak, ini akan menguntungkan.

Semoga kita bisa mengamalkan langkah-langkah ini. Barakallahu fiikum.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajian “Mendidik Anak Berbakti dan Beretika kepada Orang Tua” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56573-mendidik-anak-berbakti-dan-beretika-kepada-orang-tua/